Tentang Biji Kopi


*JAM 6 TENG*
*KOPI*

_”Hari ini berat. Besok lebih berat. Tetapi lusa akan indah," kata Jack Ma. Pertanyaannya, ketika hidup mendidih, apakah kita menjadi wortel, telur, atau justru secangkir kopi?”_

Kalau diminta memilih satu benda untuk menggambarkan kepemimpinan, mungkin kita akan menyebut kompas. Untuk ketangguhan, mungkin baja. Untuk kreativitas, mungkin pensil atau kanvas. Namun, Jon Gordon dan Damon West (2023) justru memilih sesuatu yang jauh lebih sederhana: biji kopi. 
Pilihan itu sempat membuat saya tersenyum. Mengapa kopi? Bukankah kopi lebih sering menjadi penyelamat rapat pagi daripada simbol perubahan?
Rasa penasaran itulah yang membawa saya membaca How to Be a Coffee Bean. Ternyata, buku ini sama sekali bukan tentang cara menyeduh kopi yang nikmat. Gordon dan West justru menggunakan kopi sebagai metafora untuk menjawab pertanyaan yang semakin relevan di zaman sekarang: _mengapa sebagian orang hancur ketika menghadapi tekanan, sementara sebagian lainnya justru tumbuh dan menginspirasi orang lain?_
Metaforanya sederhana, tetapi sangat kuat. Ketika air mendidih dituangkan ke dalam tiga benda yang berbeda, hasilnya tidak sama. Wortel yang semula keras menjadi lembek. Telur yang awalnya rapuh justru mengeras. Namun, biji kopi tidak tunduk pada panasnya air. Ia mengubah air itu menjadi minuman yang harum, hangat, dan memberi energi. 
Tiba-tiba saya sadar, mungkin kehidupan memang tidak meminta kita menjadi yang paling kuat, tetapi menjadi pribadi yang mampu mengubah suasana di sekitarnya.
Pelajaran itu mengingatkan saya pada pemikiran Viktor Frankl (2006), seorang penyintas kamp konsentrasi Nazi. Frankl mengatakan bahwa manusia memang tidak selalu bisa memilih keadaan yang dihadapinya, tetapi selalu memiliki kebebasan untuk memilih sikap terhadap keadaan tersebut. Dengan kata lain, tekanan tidak selalu mengubah karakter kita. Sering kali, tekanan hanya memperlihatkan karakter yang selama ini tersembunyi.
Filosofi coffee bean terasa hidup ketika kita melihat perjalanan Jack Ma, pendiri Alibaba. Kalau ada penghargaan untuk orang yang paling sering ditolak tetapi tetap optimistis, mungkin Jack Ma layak menjadi juaranya. Ia berkali-kali gagal masuk Harvard, tidak diterima bekerja di KFC ketika hampir semua pelamar lainnya diterima, bahkan harus meyakinkan banyak orang bahwa perdagangan daring memiliki masa depan. Namun, setiap penolakan justru menjadi bahan bakar untuk belajar, bukan alasan untuk berhenti.
Jack Ma pernah berkata, "Hari ini berat. Besok lebih berat. Tetapi lusa akan indah." Kalimat ini bukan sekadar kata-kata motivasi, melainkan cerminan dari apa yang oleh Carol Dweck (2006) disebut sebagai growth mindset. Orang dengan growth mindset tidak melihat kegagalan sebagai vonis, tetapi sebagai ruang belajar. Mereka memahami bahwa kemampuan berkembang melalui proses, bukan lahir secara instan.
Kisah serupa juga kita temukan pada Toshifumi Suzuki, sosok yang mengubah 7-Eleven Jepang menjadi jaringan convenience store terbesar di dunia. Ketika pertama kali mengusulkan konsep toko yang buka selama 24 jam, banyak orang menganggap idenya mustahil. "Siapa yang akan berbelanja tengah malam?" begitu kira-kira komentar yang ia terima. Namun, Suzuki tidak melihat Jepang sebagaimana adanya. Ia melihat Jepang sebagaimana yang akan terjadi beberapa dekade kemudian.
Dalam bukunya Retail Psychology, Suzuki menulis, "Jangan berpikir untuk pelanggan, tetapi berpikirlah dari posisi pelanggan." Prinsip itu terdengar sederhana, tetapi mengubah cara 7-Eleven melayani konsumennya. Suatu ketika, ketika kualitas salah satu produk bento menurun, Suzuki memerintahkan penghentian penjualan di ribuan gerai meskipun kerugiannya mencapai miliaran yen. Baginya, uang dapat dicari kembali, tetapi kepercayaan pelanggan jauh lebih sulit dipulihkan. Stephen M. R. Covey (2006) menyebut kepercayaan sebagai aset yang mampu mempercepat kolaborasi dan memperkuat kepemimpinan.
Menariknya, Jack Ma dan Toshifumi Suzuki berasal dari dunia yang berbeda. Yang satu membangun perusahaan teknologi, yang lain merevolusi industri ritel. Namun, keduanya memiliki pola pikir yang sama. Mereka tidak menghabiskan energi untuk mengeluhkan panasnya keadaan, melainkan mengubah tekanan menjadi peluang dan harapan. Mereka memilih menjadi "kopi", bukan "wortel" atau "telur".
Dunia hari ini sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar. Kita juga tidak kekurangan teknologi yang semakin canggih. Yang mulai langka adalah manusia yang tetap tenang ketika keadaan memanas, tetap berintegritas ketika memiliki kesempatan mengambil jalan pintas, dan tetap memberi harapan ketika orang lain sibuk menyebarkan ketakutan.
Mungkin itulah alasan Jon Gordon dan Damon West memilih kopi sebagai metafora. Kopi tidak pernah menghentikan air mendidih. Ia justru mengubah air panas menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Maka, ketika hidup mulai "mendidih", jangan buru-buru bertanya, "Mengapa ini terjadi pada saya?" Bertanyalah, "Aroma apa yang akan saya tinggalkan setelah semua ini berlalu?" 
Sebab, dunia yang penuh tekanan ini tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai mengeluh. Dunia membutuhkan lebih banyak _coffee bean_—orang-orang yang mengubah panas menjadi kehangatan, tantangan menjadi harapan, dan kesulitan menjadi inspirasi. 

Diteruskan dari :
Catatan
*Edhy Aruman*

0 Komentar

"Tinggalkan komentar yang membangun dan bermanfaat. Komentar yang mengandung spam, tautan promosi (jika tidak relevan), atau SARA akan otomatis dihapus oleh sistem. Melangkah maju membawa harapan dan impian!"

Inspirasi