Hati - Hati Terhadap Sumpah, Apalagi Menyebut Nama Tuhan.

Sumpah Itu Sakral, Bukan Alat Menambal Kepercayaan

Ada satu hal yang sering membuat saya berpikir.

Ketika seseorang berkata, "Demi Allah, saya tidak bohong," sebenarnya ia sedang meminjam nama Tuhan untuk meyakinkan manusia. Artinya, ia sedang berkata bahwa kebenaran ucapannya dipertaruhkan di hadapan Allāh ﷻ.

Karena itu, dalam Islam sumpah bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah ibadah lisan yang memiliki konsekuensi moral dan spiritual yang sangat berat. Nama Allāh ﷻ tidak boleh dijadikan pemanis kalimat, apalagi tameng untuk menyelamatkan kepentingan.

Sebagai muslim, kita memang diajarkan menghormati orang yang bersumpah. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seseorang yang bersumpah dengan nama Allah hendaknya jujur, dan orang yang mendengarnya mendahulukan prasangka baik selama tidak ada bukti yang menunjukkan sebaliknya. Sikap ini merupakan bagian dari adab dan husnuzan kepada sesama.

Namun, menghormati sumpah tidak sama dengan mempercayainya secara membabi buta.

Islam juga mengajarkan kehati-hatian. Dalam perkara hukum, sengketa, maupun urusan muamalah, sumpah bukan pengganti bukti. Para ulama merumuskan kaidah yang sangat terkenal: bukti menjadi kewajiban pihak yang menggugat, sedangkan sumpah menjadi kewajiban pihak yang mengingkari. Jika bukti, saksi, atau fakta yang sah menunjukkan sebaliknya, maka buktilah yang didahulukan.

Lalu muncul pertanyaan yang menurut saya menarik.

Bagaimana kita menyambungkan sikap seseorang yang selama ini begitu berani melanggar larangan-larangan Allāh ﷻ, tetapi ketika ingin dipercaya, tiba-tiba berlindung di balik nama Allāh ﷻ?

Jika terhadap perintah-Nya saja ia tidak gentar, mengapa kita diminta langsung percaya hanya karena ia mengucapkan sumpah?

Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi isi hati seseorang. Hanya saja, kepercayaan memang tidak lahir dari kerasnya ucapan, melainkan dari panjangnya rekam jejak. Orang yang hidupnya dikenal jujur biasanya tidak perlu sering bersumpah. Sebaliknya, ketika sumpah terlalu sering dijadikan alat meyakinkan orang lain, justru muncul pertanyaan: apakah yang sedang diperkuat itu kebenaran, atau sekadar keraguan orang lain?

Islam bahkan memberi peringatan keras tentang sumpah palsu. Para ulama menyebutnya Yamin al-Ghamus, yaitu sumpah yang menenggelamkan pelakunya ke dalam dosa besar karena dengan sadar menggunakan nama Allāh ﷻ untuk membenarkan kebohongan. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa sumpah memang dapat melariskan urusan dunia, tetapi dapat menghilangkan keberkahannya.

Pada akhirnya, yang membuat seseorang dipercaya bukanlah banyaknya ia mengucapkan, "Demi Allah." Yang membuat orang percaya adalah kehidupan yang konsisten menunjukkan rasa takut kepada Allāh ﷻ.

Sebab nama Tuhan terlalu agung untuk dijadikan alat mencari kepercayaan. Jika hidup sehari-hari sudah menunjukkan keberanian melanggar perintah-Nya, lalu nama-Nya dipakai sebagai penguat ucapan, yang dipertaruhkan bukan hanya kepercayaan manusia, tetapi juga kehormatan nama Allāh ﷻ yang dibawa dalam sumpah itu.

0 Komentar

"Tinggalkan komentar yang membangun dan bermanfaat. Komentar yang mengandung spam, tautan promosi (jika tidak relevan), atau SARA akan otomatis dihapus oleh sistem. Melangkah maju membawa harapan dan impian!"

Inspirasi