Legenda Asal-usul nama Djombang Gardu Tjilegon
Menurut buku "Kenang kenangan Banten, karya : "Pangeran Aria Achmad Djayadiningrat 1936"
Sejarah Djombang Gardu Tjilegon erat kaitannya dengan sejarah Perang Geger Tjilegon pada tahun 1888.
Nama ini berasal dari sebuah gardu atau pos ronda tua Kolonial Belanda di wilayah Djombang (sekitar area Pasar Cilegon lama/Matahari) yang menjadi markas dan tempat berkumpulnya para pejuang :
1. Markas Komando Ki Wasyid
2. Dalam catatan sejarah perjuangan rakyat Banten, gardu di Djombang Wetan tersebut digunakan sebagai titik kumpul utama. Dari pos penjagaan ini, tokoh ulama kharismatik Kyai Haji Wasyid (Ki Wasyid) memimpin, menyusun strategi, dan memberikan komando kepada para rekan dan pengikutnya untuk memulai pemberontakan terhadap penjajah Belanda pada 9 Juli 1888.
3. Asal Muasal Penamaan Karena gardu di wilayah Djombang tersebut menjadi pusat komando yang sangat krusial dalam pergerakan perlawanan, lokasi itu dikenal oleh masyarakat dan pejuang hingga diabadikan menjadi nama tempat :
_*" Kampung Djombang Gardu "*_
Kini legenda tersebut bertransformasi menjadi sejarah nyata. Kawasan yang awalnya hanya sebuah Gardu Kolonial Belanda, kini telah berkembang menjadi salah satu pusat denyut nadi kehidupan di Kota Cilegon, karena dari pertiga'an Matahari lama yang selalu ramai hiruk pikuk lalu lintasnya inilah akan menuju daerah atau kawasan industri Pelabuhan Bojonegara Serang.
Djombang Gardu Cilegon dulu pada masa setelah kemerdeka'an terkenal dengan *"Keripik"* nya sehingga sampai terkenal penyebutan Musholla Al-Ikhlas menjadi _*" Langgar Keripik"* karena bila pagi hari hingga sore di halaman Musholla itu berjejer jemuran Keripik dan di Djombang Gardu Cilegon ada lagi kuliner khasnya yaitu : *"Bongko"*_ (Bongko adalah makanan yang terbuat dari Nasi seperti lontong, di bungkus daun pisang berbentuk kerucut).
Seiring berjalan nya waktu produksi Keripik Djombang Gardu Cilegon telah tenggelam di telan masa karena tidak ada generasi yang melanjutkan.
Dan kuliner Bongko sampai hari ini tetap bertahan, walaupun *"Bongko Nyai Dari"* yang melegenda pada tahun 1960 an telah bergeser menjadi :
_*"Bongko Hamdan"*_
Ya, Bongko Hamdan yang terletak pada turunan perempatan jalan menuju Pasar Keranggot Cilegon yang tiap pagi ramai, antri sehingga pada jalan turunan tersebut kadang macet.
Dari generasi ke generasi bongko Djombang Gardu Cilegon, cita rasa nya tetap terjaga dengan dipadu padankan dengan kuah sayur bersantan seperti sayur lodeh yang memikat dengan rasa pedas gurihnya yang meleleh lidah.
Menjadi legenda yang selalu dicari bila pagi hari untuk sarapan istimewanya.
Demikian hasil penelusuran oleh : *@Alvirasejarah* yang telah kami telusuri, pantau dan dicatat berdasarkan berbagai sumber bahkan yang kami alami sendiri generasi tahun 1960 an serta cerita rakyat masyarakat Djombang Gardu Cilegon.
Waallahua'lambishawwab.
Cilegon, 22 Mei 2026
Disalin dari berbagai sumber oleh :
*@Alvirasejarah*
_Harun Khaen Ki Jabalintang_
Komentar
Posting Komentar