Mencintai Nabi Muhammad SAW, Pengorbanan Seorang Wanita dari Bani Dinar

Di hari Perang Uhud... Sang ayah gugur, sang kakak wafat, dan sang suami pun syahid. Namun, di tengah kepungan duka, hatinya hanya mencari satu orang saja...!

Begitu kecamuk Perang Uhud mereda, seorang wanita dari klan Bani Dinar bergegas keluar rumah setelah mendengar kabar buruk mengenai jalannya pertempuran. Ia melangkah cepat menuju Jabal Uhud dengan jantung yang berdebar kencang—bukan karena meratapi nasibnya, melainkan karena mencemaskan keselamatan Rasulullah Saw.

Di tengah jalan, beberapa sahabat menghentikannya. Mereka tahu betul bahwa ayah wanita ini telah gugur, dan mereka mencoba menyampaikan kabar duka tersebut dengan sangat hati-hati. Salah seorang sahabat berkata, "Ikhlaskanlah ayahmu."

Dengan keteguhan iman yang luar biasa, wanita itu menjawab, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Namun, sedetik kemudian ia langsung bertanya, "Lalu, bagaimana kondisi Rasulullah Saw?"

"Beliau baik-baik saja," jawab para sahabat. Mendengar itu, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kaki gunung.

Tak berselang lama, sahabat lain berpapasan dengannya dan berkata, "Ikhlaskanlah saudara laki-lakimu."

Wanita itu kembali menyahut, "Alhamdulillah, inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Lalu pertanyaan yang sama kembali terlontar dari bibirnya, "Bagaimana kabar Rasulullah Saw?"

"Beliau sehat dan selamat," jawab mereka. Tanpa berniat berbalik arah, ia terus berjalan maju.

Hingga akhirnya, sahabat ketiga menghentikan langkahnya lagi dan berbisik lirik, "Ikhlaskanlah suamimu."

Dengan hati yang dipenuhi kesabaran dan keimanan yang kokoh, ia menjawab, "Alhamdulillah, inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Sekali lagi, ia bertanya, "Lalu, apa yang terjadi pada Rasulullah Saw?"

Ketika mereka kembali meyakinkannya bahwa beliau baik-baik saja, wanita itu menegaskan, "Tidak, demi Allah, aku tidak akan tenang sampai aku melihat beliau langsung dengan mata kepalaku sendiri."

Ia pun mempercepat langkahnya. Begitu matanya menangkap sosok Rasulullah Saw berdiri dalam keadaan selamat tanpa kurang suatu apa pun, barulah hatinya merasa damai. Kalimat legendaris pun meluncur dari lisannya: "Ya Rasulullah, setiap musibah setelah keselamatanmu, terasa ringan." (Artinya: Semua cobaan berat di dunia ini akan terasa sepele, asalkan engkau selamat).

Begitulah potret cinta para sahabat kepada Rasulullah. Sebuah cinta yang tulus dan bukan sekadar pemanis di bibir. Mereka rela mengorbankan jiwa dan keluarga, sebab bagi mereka, keselamatan Rasulullah jauh lebih berharga daripada segala musibah yang ada di dunia ini.

Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, wahai Rasulullah.

Jangan lupa bershalawat!
Allahumma Shali'alla Saidina Muhammad 


***Diambil dari berbagai sumber 

0 Komentar

"Tinggalkan komentar yang membangun dan bermanfaat. Komentar yang mengandung spam, tautan promosi (jika tidak relevan), atau SARA akan otomatis dihapus oleh sistem. Melangkah maju membawa harapan dan impian!"