Setelah mendengar kajian dari seorang ustadz...
Ada satu kalimat yang bikin aku diam cukup lama.
Ternyata... masalahnya bukan karena hidup kita kurang seru, tapi karena ruh memang tidak diciptakan untuk menetap di dunia.
Coba deh pikirkan,
Kenapa setelah beli barang yang kita pengen, bahagianya cuma sebentar?
Kenapa setelah liburan, hati kosong lagi?
Kenapa setelah mencapai target, muncul target baru?
Selama ini kita mengira itu kurang bersyukur.
Padahal... itulah sifat dunia.
Ia memang tidak didesain untuk memberi rasa "cukup" selamanya.
Ustadz menjelaskan...
Yang akan dicabut saat kematian itu bukan jasad,
Tapi ruh.
Dan ruh itu tidak dimatikan, Ia hanya dipindahkan dari satu tempat menuju tempat asalnya.
Makanya ketika orang beriman wafat...
Allah memanggil,
"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu..."
Bayangkan.
Allah menyebutnya kembali pulang.
Di situ aku baru sadar...
Kenapa kita selalu merasa ada sesuatu yang kurang?
Karena ruh selalu rindu pulang.
Bukan pulang ke rumah yang ada alamatnya.
Tapi pulang kepada Rabb yang menciptakannya.
Selama kerinduan itu diarahkan ke dunia...
Ia tidak akan pernah benar-benar selesai.
Makanya dalam bahasa Arab...
Rumah bukan sekadar tempat tidur.
Ada kata "sakan".
Artinya tempat memperoleh ketenangan.
Dari akar kata yang sama lahir kata sakinah.
Bukan kebetulan.
Karena rumah seharusnya menjadi tempat hati kembali tenang.
Kalau hanya ada bangunan tanpa ketenangan...
Sebenarnya kita belum benar-benar punya "rumah".
Hal yang sama juga terjadi pada hati.
Banyak orang sibuk mencari tempat healing.
Padahal yang dicari ruh bukan sekadar suasana baru, Melainkan tempat kembali kepada Allah.
Makanya sebanyak apa pun hiburan...
Kalau hubungan dengan Allah renggang, ruh tetap terasa lelah.
Ini juga alasan kenapa majelis ilmu terasa berbeda.
Pernah nggak...
Datang dengan hati sumpek, Pikiran penuh.
Masalah belum selesai.
Tapi pulangnya terasa lebih ringan, Bukan karena masalah hilang.
Melainkan karena Allah menurunkan sakinah kepada orang-orang yang berkumpul mempelajari agama-Nya, Itu janji Allah.
Makanya Rasulullah ï·º menyebut majelis ilmu sebagai taman-taman surga, Bukan karena tempatnya mewah.
Bukan karena orang orangnya sempurna.
Tapi karena di sana...
Ada rasa tenang yang menjadi cuplikan kecil dari kenikmatan surga.
Seolah Allah sedang mengingatkan,
"Beginilah rasa pulang itu."
Surga digambarkan sebagai tempat yang tidak ada kebisingan sia-sia.
Tidak ada drama.
Tidak ada omongan yang melelahkan hati.
Tidak ada iri, dengki, atau saling menjatuhkan, Yg terdengar hanyalah salam dan kedamaian.
Mungkin itu sebabnya...
Hati kita cepat lelah ketika terlalu lama hidup dalam "kebisingan dunia".
Lalu aku teringat.
Kenapa media sosial sering membuat hati capek?
Karena setiap hari kita dijejali...Perbandingan.
Pencapaian orang.
Konten tanpa makna.
Informasi tanpa jeda.
Ruh yang butuh dzikir...
Dipaksa terus mengonsumsi distraksi.
Wajar kalau akhirnya terasa kosong.
Ada satu pelajaran yang paling mengena.
Hari terbaik dalam hidup ternyata...
Bukan hari kita lahir.
Bukan hari wisuda.
Bukan hari menikah.
Tapi hari ketika kita benar-benar mengenal Allah.
Karena sejak hari itu...
Ruh mulai menemukan jalan pulangnya.
Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
Hari seseorang mengenal Allah...Itulah hari ia benar-benar hidup.
Sedangkan hari-hari ketika ia jauh dari Allah...
Seakan ia hidup, tapi sebenarnya sedang mati sebelum kematian datang.
Kalimat ini dalam banget.
Karena ternyata...
Hidup bukan sekadar bernapas.
Makanya taubat itu rasanya seperti lahir kembali, Mulai menjaga salat, Mulai membuka Al-Qur'an, Mulai rutin hadir di majelis ilmu.
Mulai meninggalkan maksiat.
Semua itu bukan sekadar perubahan kebiasaan.
Tapi ruh sedang diarahkan pulang.
Dan satu hal lagi yang bikin merinding.
Kenikmatan dunia...
Semakin sering dinikmati biasanya semakin biasa.
Sedangkan kenikmatan surga...Semakin dinikmati justru semakin bertambah.
Berarti rasa bosan...
Memang bagian dari sifat dunia, Jadi jangan heran kalau dunia tak pernah benar-benar bisa memuaskan.
Mungkin, Selama ini kita sibuk mempercantik tempat tinggal, Tapi lupa merawat "rumah" bagi ruh.
Padahal hati hanya akan benar-benar tenang saat dekat dengan Allah.
Karena sejatinya...
Kita semua sedang dalam perjalanan pulang.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dipanggil
*"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang Ridha dan diridhai-Nya"* (Qur'an Surah Al-Fajr:27-28).
Baarakallahu fiikum, semoga Allah meridhoi kita semua, Aamiin Ya Rabbal Alamiin
***Diteruskan dari berbagai sumber
0 Komentar
"Tinggalkan komentar yang membangun dan bermanfaat. Komentar yang mengandung spam, tautan promosi (jika tidak relevan), atau SARA akan otomatis dihapus oleh sistem. Melangkah maju membawa harapan dan impian!"